default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Tsunami Dan Kisah Kerajaan Di Aceh Jaya

Tsunami Dan Kisah Kerajaan Di Aceh Jaya
Sejarah
FOTO: Aceh Jaya Paska Gempa dan Tsunami (sumber google)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

ACEH JAYA - Kabupaten Aceh Jaya yang terletak pada koordinat geografis 04°22’ -05°16’ LU dan 95°02’ – 96°03’ BT, dengan radius jarak hanya beberapa mil laut dari titik episetrum gempa di dasar Samudera Hindia, dahulunya berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Barat.

Bencana alam mahadahsyat, membuat kabupaten baru mekar tersebut harus tertatih, merangkak, untuk membangun kembali kehidupannya usai gempa disusul gelombang tsunami dengan kekuatan skala besar menggoyang dan meluluhlantakan wilayah di semenanjung pantai barat tersebut. Bencana alam itu akan selalu dikenang sepanjang masa.

Minggu pagi 26 Desember 2004, awan gelap menyelimuti Kabupaten Aceh Jaya. Gempa tectonic 9,3 scala richter, Samudera Hindia, 32 km dari pantai Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, yang disertai gelombang tsunami, menghancurkan wilayah pesisir ini. Padahal saat itu Aceh Jaya baru saja berusia dua tahun, mekar menjadi sebuah kabupaten.

Aceh Jaya, porak poranda diguncang gempa maha dahsyat dan bersih disapu gelombang tsunami yang menewaskan ribuan jiwa masyarakat kabupaten ini, termasuk Istri dan empat orang anak saya. "Hingga saat ini, jenazah mereka tidak ditemukan. Kabupaten Aceh Jaya masa itu terisolir, tidak ada akses darat kecuali laut dan udara," ujar mantan Pejabat Bupati Zulfian.

Korban meninggal saat bencana itu, sekitar 19.150 jiwa. Untuk Desa yang hilang, Zulfian mengatakan lupa. Namun yang pasti, di sepanjang pesisir, dari Desa Ujong Seuduen, Lamno, di Kecamatan Jaya, hingga Desa Lueng Gayo, di Kecamatan Teunom, sepanjang garis pantai 145 km, desa dipesisir itu hilang.

"Saat gempa dan tsunami terjadi saya berada di Jakarta dalam rangka tugas, bersama Ketua DPRK Aceh Jaya, (Alm) Teuku Hamdani, biasa disapa Cut Ham, kenangnya.

Kemudian, baru di hari ketiga tsunami, ia bersama Ketua DPRK Aceh Jaya bisa kembali kekabupaten, itupun menggunakan Helicopter bersama TNI. Dari udara saya melihat mulai dari Lambeso, hingga Kota Calang,  tidak tampak satupun bangunan tersisa. Hanya tanah coklat terhampar sejauh mata memandang, kata Zulfian.

"Dengan hati yang disertai pikiran kalut, selain porak porandanya kabupaten dipimpinnya, alangkah banyak jumlah korban jiwa masayarakat sebab bencana tersebut. Pastinya tak terhitung," dalam hati ia berkata.

Roda pemerintahan saat itu mulai berjalan tertatih-tatih, dengan ditemani satu mesin ketik perangkat jadul, itu satu-satunya modal merancang proposal dan merangkai untaian kata yang ditujukan kepada pemerintah atasan di Banda Aceh, sambung Zulfian Ahmad.

Kondisi hari ke tiga paska bencana, saat itu belum ada barak atau apapun. Kami bersama masyarakat yang selamat berinisiatif untuk mendirikan barak-barak tempat berlindung diri menggunakan bahan plastik bekas sebagai sarana awal untuk memulainya aktifitas pemerintahan, tutur mantan pejabat bupati itu.

"Selama dua puluh hari, kami hanya mengkonsumsi isi kelapa dan airnya saja, karena belum ada beras atau bantuan yang kami dapatkan," masih cerita Zulfian.

Butuh waktu 8 bulan memperbaiki akses Kabupaten Aceh jaya yang hancur total. Walaupun itu belum maksimal dilakukan hanya sementara, sehingga alur pemerintahan dan komunikasi tidak terputus, kenangnya.

 

Wisata Alam Aceh Jaya, Menarik minat wisatawan Asing

Bila melihat dari sisi pantainya, Kabupaten Aceh Jaya ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Sedangkan keindahan alamnya, dari semua pantai di pesisir barat Aceh, alam di Aceh Jaya ini sungguh eksotis, dan kerap dipuji sebagai kawasan terindah.

Konon ceritanya, di abad ke-18, tempat ini sangat tersohor sebagai tempat singgahnya kapal pengangkut lada dari Amerika. Hal itu tercatat dalam satu buku berjudul The Contest for North Sumatra: Atjeh, the Netherlands and Britain, 1858-1898 (1969).

Anthony Reid menuliskan, pada tahun 1820, lada dari beberapa pelabuhan di Aceh Barat, seperti Patek, Rigaih, Calang, Teunom, dan Meulaboh, menjadi komoditas terkenal di Massachusetts, Negara Amerika Serikat.

Pada awal era 1990-an, masa itu banyak wisatawan asing berdatangan ke Aceh Barat(dahulu), Aceh Jaya (sekarang). Kedatangan wisatawan itu dengan beragam kegiatan, seperti berselancar, menyelam, dan menikmati keindahan laut di pantai berbatasan langsung Samudra Hindia, dengan garis pantai di kabupaten ini sepanjang 135 kilometer.

Kala itu, animo turis asing sangat tinggi akan keindahan alam dan lautnya. Akhirnya, tempat peristirahatanpun turut dibangun guna melengkapi kebutuhan wisatawan di Kuala Dou, Kecamatan Setia Bakti.

Hasil olahan dari tangan dingin seorang arsitektur asing warga negara Jerman yang masuk Islam karena menikahi wanita lokal bernama Norma, warga asing bernama Islam Daud itu, melalui karyanya membangun pondok-pondok untuk digunakan para wisatawan mancanegara datang berkunjung.

Daud Jerman, biasa warga menyapanya memang diakui mempunyai ide brilian. Demi menarik tamu wisatawan, ia membangun bangunan unik, yaitu pondok-pondok bukan berpondasi tanah melainkan berada di atas pohon-pohon.

Namun, disaat tengah gencar-gencarnya wisatawan melirik wilayah tersebut, keadaan berbicara lain. Kondisi keamanan kala itu semakin mengkhawatirkan akibat konflik Aceh yang mulai memanas antara GAM dan TNI, kontak senjata sering terjadi, sehingga pariwisata di Kuala Dou mati suri.

Para turis mancanegara mulai hengkang enggan untuk kembali menikmati liburannya. Lambat laun tempat wisata itu turut sepi dan terbengkalai. Ditambah hengkangnya Daud, yang pergi meninggalkan usaha yang dirintisnya.

Lalu, saat konflik Aceh masih berlangsung, bencana alam pun meluluhlantakan kabupaten ini. Semua itu kini tinggal kenangan.

 

Aceh Jaya Dan Kisah Kerajaan-Kerajaannya

Alkisah pada zaman lampau terdapat satu kerajaan yang menjadi satu kekuatan, yaitu Kerajaan Teunom. Kerajaan itu berada dalam wilayah Aceh Barat, Provinsi Aceh.

Menurut informasi didapat dari beberapa sumber, pada masa Kesultanan Aceh, kerajaan itu merupakan vasal atau bawahan Sultan Aceh, dipimpin oleh Raja bergelar Uleebalang.

Setelah berakhirnya Perang Aceh, tahun 1914, Teunom masuk Onderafdeling Calang, sebagai “swapraja”.

Pada masa lampau, awalnya di Aceh ini telah banyak berdiri kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di seluruh daerah Aceh. Untuk Aceh Besar masih tampak kokoh peninggalan tersebut hingga saat ini, yaitu Kerajaan Indra Patra dan Indra Purba.

Sedangkan Di Pidie, ada Kerajaan Pedir. Aceh Tengah, ada Kerajaan bernama Linge. Kemudian, di pesisir pantai barat Aceh, ada beberapa kerajaan-kerajaan kecil, seperti Kerajaan Daya, di Lamno, Kerajaan Teunom di Teunom, Kerajaan Trumon di Trumon serta kerajaan-kerajaan kecil lainnya di Daerah Singkil dan Aceh Tenggara.

Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Kabupaten Aceh Jaya sekarang ini merupakan onderafdeeling dari Afdeeling Westkust van Atjeh (Aceh Barat), salah satu dari empat afdeeling Wilayah Kresidenan Aceh.

Afdeeling Westkust van Atjeh merupakan suatu daerah administratif meliputi wilayah pantai barat Aceh dari Gunung Geurute, hingga Singkil dan Kepulauan Simeulue*** (Bersambung)...

Isi dirangkum dari beberapa sumber terpercaya.


Kontributor : Aceh
Editor : DP
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar