default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Aceh Jaya: Keindahan Krueng Paleng Dan Ceurache Embon, Ini Ceritanya

Aceh Jaya: Keindahan Krueng Paleng Dan Ceurache Embon, Ini Ceritanya
Wisata
FOTO: Tim.Pegiat Wisata, Saat Di Lokasi. (Dokumen pribadi)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

ACEH JAYA - Kala hangatnya mentari menyapa sang surya di pagi hari, kehangatan dari sinar matahari menerpa dedaunan, menghantarkan lelahnya kami pegiat wista Aceh Jaya, pada satu perjalanan panjang beberapa waktu lalu menuju satu lokasi yang indahnya alam tidak dapat kita ungkap dengan kata-kata.

Sembilan orang tim dari Komunitas Pegiat Wisata Kabupaten Aceh Jaya mengunjungi salah satu desa yang berada di pedalaman Kabupaten Aceh Jaya, yaitu Desa Alue Jang.

Dengan menelusuri jalan diantara pemukiman rumah warga, tim menempuh waktu selama dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor, dengan jarak tempuh 15 kilo meter dari simpang Keude Teumon.

Setiba di lokasi awal menuju titik Hotspot, kedatangan tim disambut salah satu pemuda desa setempat, Khairul, lebih akrab kami menyapanya Khairul Ceurache Embon, yang saat itu sudah menyiapkan bekal sarapan buat kami, cerita Ketua Pegiat Wisata Aceh Jaya, Almuzammil, Jum'at dinihari (19/7).

Sambil menikmati secangkir teh hangat, lelaki usia 34 tahun, bernama Khairul, menceritakan sedikit gambaran indahnya alam di Pucok Krueng Teunom, yang menurut dia di tempat tersebut masih alami dan belum terjamah ulah tangan-tangan jahil, kata  Zammil.

"Ada dua hal menarik bila kita mengunjungi Pucok Krueng Teunom ini," di lokasi kita tuju nanti, ada sebuah tempat biasanya kami menyebutnya Krueng Paleng, ungkap Khairul, kepada tim.

Ditempat itu, nanti akan kita lihat tebing-tebing menjulang tinggi mengelilingi sungai, ditambah rimbun dan hijaunya pepohonan membuat mata siapapun enggan untuk berkedip. "Saya yakin kalian pasti akan terpana," pungkasnya.

Selain tebing-tebing tinggi tampak menjulang, ada sebuah Air terjun bernama Ceurache Emboen (Embun), dengan ketinggian hampir 80 meter dari permukaan tanah, kata Khairul, sambil menyeruput secangkit teh ditangannya.

"Ceurche Embon dan Krueng Paleng, dua hal yang memiliki keindahan sangat berbeda tetapi saling melengkapi. Ibarat seperti bola mata, hitam dan putih, bersatu namun tidak menyatu," bebernya.

Lalu, sambil melihat jam pada pergelangan tangan kanannya, jam telah menunjukan angka delapan WIB, kata Khairul.

"Pada jam-jam seperti ini, penduduk desa setempat sudah mulai melakukan aktifitas kesehariannya. Rata-rata masyarakat desa ini lebih dominan sebagai petani, ada yang kesawah dan ada yang kebun," tuturnya.

Sementara, anak-anak di desa ini beraktifitas dengan bersekolah. Walaupun saat libur atau jam pulang sekolah, mereka turut mebantu orang tuanya. Namun, bila di hari sekolah anak-anak itu lebih mengutamakan sekolahnya, seperti yang kita lihat, ujar Khairul.

"Coba lihat, tunjuk dia, tampak anak-anak menggunakan seragam merah putih tersebut mengayuh sepedanya hendak menuju ke sekolah yang berada tidak jauh dari desa ini," ucapnya.

Kemudian, Khairul kembali meceritakan indahnya alam di lokasi akan kami tuju. Tempat itu nanti, tidak akan bisa kita nikmati bila kita tidak mengunjungi dan melihat langsung akan keindahannya.

"Percuma bila saya ceritakan, nanti pasti timbulnya hanya penasaran saja," ucap dia sambil tersenyum serta mengajak tim menuju lokasi dimaksud.

Berbekal modal Rp1 juta, kami berikan kepada Khairul, dari sepeda motor, kamipun beralih menuju kendaraan air, yaitu speed boat berkelir putih, milik lelaki paruh baya, Suharta, atau pak Suharta, biasa orang menyapanya, sambung Zammil.

Speed boat berkapasitas penumpang 12 orang, memang sudah dipersiapkan jauh hari oleh Khairul. Dengan menggunakan speed boat tersebut, nantinya kami akan mengarungi derasnya aliran arus sungai Teunom.

Ada perasaan cemas bercampur khawatir, datang silih berganti pada hati kami.

Apalagi, saat semua penumpang sudah berada dalam boat dikemudikan Suharta, masih cerita Almuzammil.

"Dibalik rasa cemas yang kami rasakan, ada satu hiburan tersendiri timbul dibenak kami saat kami melihat speed boat yang kami tumpangi mulai bergerak menelusuri riak-riak air sungai dengan harapan terbesit ingin cepat sampai di tujuan."

Terlihat, sesekali nahkoda paruh baya itu, dengan lihainya melajukan boat dalam kecepatan lumayan membuat hati kami menjadi dag,dig,dug, ser, sambil tertawa Zammil mengenang perjalanan tersebut.

"Dalam kecepatan, Pak Suharta terlihat seperti 'joki kuda' saat menunggang kuda di arena balapan, dia tersenyum kecil saat menampakan atraksinya di air kepada kami."

Liukan speed boat di arus sungai Teunom tersebut, memperlihatkan betapa mahirnya sosok Suharta memainkan kemudi boatnya, terkesan ada sensasi dan kenangan yang akan membekas kepada kami saat sekembalinya dari perjalanan ini.

Satu jam sudah perjalanan tim tempuh diatas speed boat, dengan ditemani rasa tidak karuan, seakan ada afek jera yang terjadi dalam perjalanan ini. "Mungkin ini pertama dan terakhir aku menuju ketempat ini, dalam hati merasa kapok."

Saat hati sedang merasa jengkel, jenuh dengan perjalanan ini, wajah yang lesu serta tegang, secara tiba-tiba berubah seketika. Efek apakah ini, ucap Zammil.

Kelopak mata semula redup akibat kelelahan, ditambah efek mengantuk akibat kurang tidur, tiba-tiba mata ini terbelalak, bola mata seakan enggan berkedip mengikuti kelopaknya.

"Saya terpana, dan sungguh tidak percaya, melihat apa yang ada didepan mata. Sebuah keindahan yang menurut dia, ini betul-betul sempurna," ungkapnya.

Siapa sangka, ujar Zammil, di alam belantara, rimba hutan Aceh Jaya, sering disebut sebagai Bumoe Meurehoem Daya, ternyata tersimpan sebuah keindahan alam yang sungguh indah, tidak dapat saya sebutkan dengan kata-kata.

Ini adalah sebuah tempat terindah takjub Almuzammil, saya akui keindahan di tempat ini, tuturnya.

"Berada di tempat ini seperti bukan berada di Kabupaten Aceh Jaya. Tempat ini tidak kalah dengan luar sana."

Aliran sungai diapit oleh tebing-tebing tinggi yang menjulang, ditambah hiasan hijaunya pepohonan membuat leher lebih perkasa ketimbang baja yang selalu siap menopang kepala saat melihat mengikuti instuksi bola mata, kata Zammil.

"Ia mengaku terpana, takjub menyaksikan indahnya alam ciptaan dari Yang Maha Kuasa, yang mampu melumpuhkan ingatan bisingnya kehidupan perkotaan."

Khairul melihat perubahan pada pancaran wajah dari tim pegiat wisata. Sambil tersenyum ia mengatakan, inilah tempat yang saya katakan sebelum perjalanan dimulai.

Bagaimana keindahan dari tempat ini, menurut kawan-kawan? timpal Khairul.

"Tempat ini, kami menyebut dengan nama Krueng Paleng, yang artinya sungai berpaling. Nama ditempat ini diambil dari nama tempat yang mana Krueng (sungai) dihimpit oleh gunung yang menjulang tinggi, tampak seperti sebuah dinding raksasa," katanya.

Sedangkan arti dari Paleng, yaitu berpaling, mengapa seperti itu? Alasannya, setiap orang berada di tempat ini, sungai ini akan secara sendirinya memalingkan kepala orang yang berada di lokasi ini dengan keindahan alamnya, kata Khairul. (Bersambung)

Informasi yang dihimpun, Desa Alue Jang ini, lahir melalui Qanun Kabupaten Aceh Jaya, Nomor 3 Tahun 2011, tentang Pembentukan Kecamatan Indra Jaya, Kecamatan Darul Hikmah dan Kecamatan Pasie Raya dalam Kabupaten Aceh Jaya, yang sebelumnya berada Kecamatan Teunom, dan saat ini menjadi bagian dari Kecamatan Pasie Raya.***


Kontributor : Vid
Editor : Jefri Aceh 1
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar